Portal Indonesia
Idul adha

FWLM dan JSJ Jember : Wartawan 'Gadungan' Harus Ditertibkan

berita terkini
FWLM dan JSJ saat mengisi dialog interaktif di RRI Jember
ramadhan

JEMBER,PortalBangsa.com - Perkembangan dunia jurnalistik pasca era Reformasi di Indonesia membuka mata masyarakat akan kebebasan pers yang tumbuh kian pesat. Masyarakat dapat memperoleh informasi secara mudah dengan banyaknya pilihan media massa baik cetak maupun elektronik dan yang sekarang ngetrend adalah media syber atau on line.

Namun banyaknya media yang ada dengan mudahnya seseorang untuk mendirikan perusahaan media tidak diikuti dengan rekrutmen wartawan atau jurnalis yang berkualitas. Mudahnya seorang menjadi wartawan dengan bermodal membayar sejumlah uang akan dapat id card dan surat tugas.

Dan ujung-ujungnya penyalahgunaan profesi wartawan sering kali terjadi di masyarakat baik lembaga pemerintah, swasta bahkan di kalangan masyarakat bawah termasuk di Jember sendiri.

Untuk membahas segala permaalahan dan solusi penertiban wartawan yang tidak profesional dibahsa dalam dialog interaktif di RRI Jember Selasa (20/9).

Hadir dalam dialog interaktif tersebut Suyono mantan wartawan yang pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jember kini Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Unmuh Jember, Ketua Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember Ihya Ulumiddin, Koordinator Jember South Journalist (JSJ)  Rully Efendi yang dipandu Dayat Handoko dan Budi Mu’in.

Rully yang juga wartawan Radar Jember menilai, banyak laporan masyarakat yang merasa dirugikan oknum yang mengaku wartawan. Mereka miminta uang bahkan ada pula yang sampai memeras. Bahkan dia menilai banyak penumpang gelap berkedok wartawan.

“Seperti itu tegas bukan wartawan,” katanya.

Senada dengan Rully, Udik sapaan akrab Ihya Ulumiddin yang juga wartawan Memo X menyebut bahwa mereka memanfaatkan profesi mulia seorang wartawan. Wartawan harus memiliki karya jurnalistik. Karenanya dia sepakat, meminta warga sebagai juri yang cerdas.

“Jika ada yang meminta sesuatu atau sampai memeras, segera lapor polisi,” pintanya.

Meski demikian, Suyono yang juga mantan wartawan Surabaya Post juga menegaskan bahwa narasumber tidak boleh menolak saat hendak diwawancarai wartawan.

“Apalagi sampai mengusirnya. Sebab wartawan dilindungi oleh undang-undang,” ujarnya.

Diakhir dialog, Udik menambahkan bahwa penertiban tidak hanya untuk wartawan abal-abal atau wartawan gadungan saja. Namun wartawan professional yang sudah memiliki sertifikat uji kompetansi juga harus memiliki integritas yang kuat. Komitmen jurnalis professional yang kuat secara pribadi.

“Dan tidak memanfaatkan profesi wartawan atau jurnalis untuk mendapatkan atau menerima pemberian suatu fasilitas dari penyelenggara Negara dengan mengakibatkan kerugian Negara seperti bansos maupun hibah yang terjadi dibeberapa tempat,” pungkasnya.

Reporter :
Editor :
444
Berita Sebelumnya Satu Lagi, DPO Polres Lumajang Diciduk
Berita Selanjutnya Kerusuhan Dibeberapa Daerah, Sekretaris MUI Probolinggo: Jangan Terprovokasi 

Komentar Anda