Portal Indonesia
ad

Mengenal Profesor Surono Tentang Kedaulatan Pangan di Hari Santri Nasional, Ini Ceritanya 

berita terkini
Mbah Surono (tengah), Chandra (kanan)
ad

BONDOWOSO, (portalindonesia.co.id)- Kedatangan Profesor Surono Danu pada kegiatan seminar disebuah kampus di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur saat suasana peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018, banyak warga petani yang ingin menemuinya secara langsung.

Salah satu warga yang sangat tertarik dengan tokoh yang biasa di panggil dengan sebutan "Mbah Surono" itu adalah Januar Adie Chandra, SP (38) warga asal Jember yang banyak berkecimpung di Kabupaten Bondowoso. 

Secara flash back, Chandra bercerita, setelah tanggal 22 Oktober di tetapkan sebagai Hari Nasional, banyak kegiatan yang digelar oleh berbagai kalangan baik pemerintah maupun lembaga - lembaga pendidikan, pesantren, masyarakat untuk memperingati HSN. Mulai kegiatan upacara, sejumlah ivent, peduli lingkungan, dan lain sebagainya digelar untuk memperingati HSN tersebut. 

"Kegiatan-kegiatan tersebut adalah wujud nyata semangat perjuangan kaum Santri dalam menjaga Kebhinekaan dan keutuhan Bangsa," tutur Chandra, Rabu (24/10/2018). 

Lebih jauh, Chandra bercerita, disaat memperingati HSN 2018, tiba-tiba terdengar sebuah kabar kalau Mbah Surono akan datang ke Kabupaten  Situbondo untuk menghadiri acara seminar. "Mendengar kabar tersebut, saya sangat gembira," ucapnya. 

Lanjut Chandra, ditengah riang dan semangat seluruh santri, baginya pagi itu terasa berbeda karena ingin sekali berjumpa dengan Mbah Surono. 

"Beliau itu sosok yang sangat sederhana, merakyat, dan sangat dekat dengan para petani yang saya rasakan, semangatnya luar biasa seakan melebihi semangatnya pemuda sekalipun," ujarnya.  

Chandra kembali bercerita, berdasarkan sepengetahuannya, Mbah Surono adalah pencipta sekaligus penemu bibit lokal yang memilih memundurkan diri dari jabatan PNS nya pada masa orde baru hanya karena Mvah Surono tidak setuju dengan anjuran pemerintah dalam pemakaian pupuk kimia. 

"Saat beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai PNS, sekitar tahun 1983. Hal inilah yang membuat saya itu semakin penasaran dan ingin bertatap muka serta bisa berjabat tangan secara langsung dengan beliau," katanya. 

Saat tiba waktunya, akhirnya Chandra memutuskan berangkat ke Situbondo untuk bisa menemui Mbah Surono. 

"Saat saya bertemu beliau disalah satu rumah petani yang letaknya tak jauh dari Kota Sotubondo, beliau sudah banyak ditemani para petani baik dari Kabupaten Situbondo maupun petani dari kabupaten sekitar Tapal Kuda. 

"Saat berjumpa, raut muka beliau dengan tanpa beban terlihat sedang bergurau sambil mendengarkan cerita serta keluh kesah para petani. Ada banyak hal pelajaran penting yang saya dapatkan dari apa yang disampaikan Mbah Surono saat itu dan salah satunya adalah soal pentingnya Ketahanan Pangan Bangsa.," beber Chandra.  

Saat itu, lanjut Chandra, Mbah Surono meyampaikan beberapa hal kepada para petani. "Beliau mengatakan, salah satu tantangan besar di era globalisasi ini, adalah soal ketahan pangan," tutur Chandra. 

Kita, sambung Mbah Surono, sudah banyak ketergantungan, penjajahan millenial yang tanpa terasa dan lebih berbahaya. Petani kita dibiat tergantung pada kepentingan para pemodal yang hanya mencari keuntungan besar tanpa melihat nasib jangka panjang pangan kita, dari mulai pembibitan, pengolahan, pestisida, bioteknologi dan lain sebagainya, selain merusak hal tersebut menjadikan para petani sangat tergantung, belum lagi soal kemadirian para petani," terang Mbah Sorono saat itu. 

Dari obrolan saat bersama Mbah Surono, kata Chandra, cukup menyadarkan bagi yang hadir, betapa pentingnya untuk berpikir mengaktualisasikan kedaulatan pangan dan menumbuhkan kembali kemandirian petani. 

"Karena mau tidak mau kita harus menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan untuk jangka panjang. Ini adalah tugas kita bersama baik pemerintah dan para petani. Pemerintah tentu harus mendorong dan menjadi fasilitator untuk mewujudkan kedaulatan pangan, membebaskan ketergantungan para petani, memberikan pendampingan serius untuk mendengar sekaligus meraaakan keluh kesah petani, mrmberikan solusi permodalan yang efektif dan sebagainya," ucap Chandra.

Selain itu, Mbah Surono juga mengingatkan, bahwa kemandirian para petani akan terwujud ketika ketergantungan obat-obatan yang mengandung kimia dikurangi atau bahkan dibebaskan. 

"Salah satunya dengan pembenihan bibit lokal non hybrid, penggunaan pupuk organik dan semacamnya harus terus ditingkatkan, serta melakukan pendampingan intens kepada para petani," tuturnya. 

Mbah Surono saat itu banyak memberikan pencerahan sekaligus pendampingan langsung kepada para petani, hal ini terbukti semakin banyak para petani yang mulai menanam benih lokal dan menggunakan pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. 

Pada acara saat itu, beberapa petani yang hadir juga mengungkapkan, bahwa hasil pertanian mereka jauh lebih maksimal dari sebelumnya. 

Sebelum acara berakhir, hal yang saya ingat dari apa yang disampaikan beliau adalah, Hari Santri Nasional yang luar biasa harus dengan motivasi yang luar biasa pula. Kita generasi muda memiliki tugas dan kewajiban untuk meneruskan semangat perjuangan para Founding Father Bangsa seperti konsep Trisakti Bung Karno Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi dan Berkeadaban dalam Budaya," pungkad Chandra. 

 

Reporter : Abdul Hakim
Editor :
ad
Berita Sebelumnya Saat Pimpin Apel, Wagub Kepri Pesan Kepada Siswa Untuk Waspadai Narkoba
Berita Selanjutnya Pelaku Asusila Resahkan Warga, Digelandang ke Mapolres Situbondo 

Komentar Anda