Portal Indonesia
Habibie

Dua Orang Penyelundup Miras Ilegal Hanya Dituntut JPU 3 Tahun Penjara

berita terkini
Dua Terdakwa Saat Menjalani Sidang Beragendakan Tuntutan
ramadhan

SURABAYA,(portalindonesia.net) - Dua orang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Tanjung Perak, Surabaya, yakni Fadhil dan Katrin Sunita menjatuhkan tuntutan terhadap Daniel Damaroy dan Dian Priyantono, terdakwa dalam kasus penyelundupan miras ilegal senilai Rp 27 miliar hanya 3 tahun penjara.

Surat amar tuntutan dibacakan JPU Fadhil pada persidangan yang digelar di Ruang Sari 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (17/12/2018). Sidang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Sifa'urosidin, SH., MH., sedangkan dua orang terdakwa didampingi oleh tim kuasa hukum.

"Memohon kepada Majelis Hakim yang menangani dan memeriksa perkara ini menjatuhkan kepada masing-masing terdakwa dengan hukuman pidana 3 tahun penjara. Dengan meminta agar para terdakwa tetap ditahan," kata JPU Fadhil membacakan amar tuntutan.

Selain hukuman badan, dua orang terdakwa ini juga diharuskan membayar denda sebesar Rp 100 juta, atau diganti hukuman kurungan selama 2 bulan penjara apabila tidak mampu membayar sejumlah denda.

Setelah mendengar tuntutan yang dibacakan JPU, Sutikno selaku kuasa hukum terdakwa menyatakan keberatan atas tuntutan terhadap kliennya. Ia menganggap bahwa terdakwa hanyalah kacung atau bawahan. Sutikno ingin dalam kasus ini menyeret aktor utama ke meja hakim.

"Tuntutan dari Jaksa terlalu berat dan minta keringanan, mereka (terdakwa) cuma bawahan tidak tahu apa-apa. Dia punya atasan, kenapa yang (ditangkap) cuma bawahan," jelasnya pada sejumlah awak media, Senin (17/12).

Pada persidangan sebelumnya, terdakwa Daniel Damaroy mengungkap, terjadi kesepakatan fee sebesar Rp 30 juta per kontainer pada Dian apabila dia berhasil meloloskan ribuan miras itu dari pengawasan petugas bea dan cukai Surabaya.

Uang suap itu didapatkan Daniel dari tangan Yordi, yang disebut-sebut sebagai DPO dalam kasus ini.

Untuk dapat meloloskan miras itu, pihak importir (Yordi) telah memalsukan isi dokumen atau manifes yang tadinya berisi miras dirubah menjadi benang Polyester dan mesin bekas.

Kasus penyelundupan ini terungkap pada 26 Juni 2018 lalu. Petugas Bea dan Cukai Tanjung Perak berhasil mengamankan 3 kontainer yang berisi 50.664 botol miras yang diangkut dari Singapore.

Ribuan botol miras itu didatangkan melalui perusahaan importir PT. Golden Indah Pratama, dengan menggunakan dokumen palsu yang tertulis polyestern yarn (benang polyester).

Total nilai ribuan miras dari berbagai merk itu lebih dari Rp 27 miliar, sementara potensi kerugian negara yang timbul dari tidak terpenuhinya pemenuhan pembayaran pajak mencapai lebih dari Rp 57,7 miliar yang terdiri dari: Bea Masuk Rp 40,5 miliar; PPN 6,7 miliar; PPh pasal 22 Rp 5,1 miliar; dan Cukai Rp 5,4 miliar.

Perbuatan para terdakwa yang memalsukan isi dokumen atau manifes yang tadinya berisi miras menjadi benang Polyester dan mesin bekas, dinilai Penuntut Umum telah memenuhi unsur pidana yang diancam dalam UU Kepabeanan Pasal 103 huruf (a) UU No 17 tahun 2006 tentang perubahan atas UU No 10 tahun 1995 jo Pasal 55 ayat (1) KUHPidana.

Reporter : Fauzi/Makmun
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya Upacara Pelepasan Peserta Prakerin, Ini Pesan Berharga Komite SMK Al Akhyar Bondowoso 
Berita Selanjutnya Digugat Cerai Istri, Pria Ini Gantung Diri

Komentar Anda