Portal Indonesia
ramadhan

Bunuh Bayi Kandungnya Sendiri, Ini Sikapnya Saat Diadili di PN Surabaya

berita terkini
Maria Ledatondu Diadili Beragenda Dakwaan
222

SURABAYA,(portalindonesia.net) - Maria Ledatondu terdakwa kasus pembunuhan bayi kandungnya terlihat linglung saat majelis hakim yang diketuai Dede Suryaman menanyakan identitas dirinya.

Beberapa kali wanita asal Sumba, NTT ini lost control dan tak sadar akan namanya sesaat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Samsu Efendi akan membacakan surat dakwaannya.

"Nama saudara siapa, terdakwa dengarkan saya, nama anda siapa, lha kok bingung," ucap Hakim Dede Suryaman saat bertanya pada terdakwa Maria diruang sidang Garuda 2, PN Surabaya, Selasa (8/1/2019).

Setelah beberapa kali ditanyakan, wanita yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di kawasan Kejawen Putih Mutiara Surabaya ini akhirnya tersadar diri dan spontanitas menyebut namanya dengan nada yang pelan.

"Nama saya Maria," jawab terdakwa.

Selanjutnya, Hakim Dede Suryaman meminta Jaksa Samsu Efendi untuk membacakan surat dakwaannya. Nah, dalam dakwaan itulah diketahui, jika terdakwa membunuh bayinya dengan cara dibekap sesaat menjalani proses persalinan sendiri di kamar mandi tempatnya bekerja. 

"Bayi yang masih terbungkus plasenta itu dimasukan ke dalam tas plastik dan menjelang pagi dibuang terdakwa ke tempat sampah," terang Jaksa Samsu Efendi saat membacakan surat dakwaannya.

Tak lama kemudian, petugas sampah TPA Keputih menemukan tas plastik berisi tubuh bayi yang sudah tidak bernyawa. 

"Penemuan mayat bayi ini dilaporkan ke polisi dan akhirnya menetapkan Maria sebagai tersangka," sambung Jaksa Samsu.

Diungkapkan dalam dakwaan, perbuatan pembunuhan bayi itu tega dilakukan Maria lantaran Ia malu melahirkan anak dari hasil hubungan gelap dengan pacarnya yang ada di Sumba, NTT.

"Untuk menutupi rasa malunya, terdakwa meninggalkan Sumba dan pergi ke Surabaya untuk bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga," kata Jaksa Samsu. 

Atas perbuatannya itu, terdakwa didakwa dengan pasal berlapis, yakni melanggar pasal 341 KUHP dan 342 KUHP.

"Kami tidak mengajukan eksepsi," kata Victor A Sinaga, penasehat hukum terdakwa Maria dari LBH Taruna.

Usai persidangan, Victor mengaku prihatin dengan kondisi terdakwa. "Semestinya laki laki yang menghamili terdakwa juga harus bertanggung jawab," pungkasnya.

Reporter : Fauzi/Makmun
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya Akibat Ungkap Dana Hibah, Wartawan Media Online di Pamekasan Alami Kekerasan
Berita Selanjutnya Elan Rajiun

Komentar Anda