Portal Indonesia
ramadhan

Hari Pers Nasional, Ini Respon dan Testimoni Tulisan Singkat Tokoh Masyarakat Malang 

berita terkini
Ilustrasi
222

MALANG RAYA (portalindonesia.net) - Hari Pers Nasional yang ditetapkan pada tanggal 09 Pebruari 2019 mendapat respon positif bagi para tokoh masyarakat Malang, baik dalam bentuk kritik membangun atau support, dukungan dan motivasi bagi insan Jurnalis. 

Selain ucapan, tokoh masyarakat Malang juga memberikan testimoni tulisan singkatnya saat dihubungi portalindonesia.net, Jumat (8/2/2019). 

Sejumlah respon, ucapan dan testimoni tertulis singkat yang disampaikan oleh sejumlah tokoh masyarakat Malang ini, antara lain disampaikan Yunanto, mantan wartawan Harian Sore "Surabaya Post" (1982 - 2002). Dalam responnya, Yunanto menyampaikan Jurnalis Wajib "Melek" Hukum. 

"Jurnalis, wartawan, pewarta, menurut saya wajib "melek" (memahami) hukum. Bila tidak, maka berpotensi membahayakan dirinya sendiri, keluarganya, institusi medianya, bahkan komunikan medianya. Terlebih lagi di era reformasi sekarang," kata Yunanto. 

Menurutnya, hukum yang dimaksudkan adalah hukum positif (undang-undang). Hal itu sejalan dengan realitas pijak jurnalis di  negara hukum Republik Indonesia (Pasal 1, ayat 3, UUD 1945). Kemerdekaan pers harus dimaknai "kebebasan yang bertanggung jawab". 

"Parameternya dibingkai dalam hukum positif. Maka, tak boleh ada kebebasan tanpa tanggung jawab," kata Yunanto saat memberikan respon. 

Idealnya, jurnalis tahu banyak tentang hukum positif. "Terutama yang bersinggungan langsung dng bidang tugasnya. Paling tidak, ia paham UU RI No.8/Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai "pondasi" hukum pidana. Lebih bagus mafhum KUHP dan UU ITE," jelas Yunanto. 

Yunanto menambahkan, pemahaman tersebut bisa meningkatkan kualitas karya jurnalistiknya. "Akhirnya, ia juga mampu turut serta mencerdaskan khalayak komunikan medianya," imbuhnya

Respon dari tokoh masyarakat Malang lainnya, disampaikan oleh Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang, Drs. Hari Sasongko. 

Ia menyampaikan, pers harus obyektif dalam pemberitaan, melihat langsung peristiwa yang mau diangkat dan memahami hal yang pokok atas sebuah peristiwa. Pers wajib membekali diri seputar informasi dari permasalahan yang akan ditanyakan, apabila meminta komentar dari pihak lain terhadap peristiwa yang mau diangkat, diuraikan dulu permasalahannya. 

"Sehingga yang diwawancarai punya bahan untuk berpendapat.Karena jika spontanitas, banyak narasumber yang diinginkan berkomentar mudah digiring ke opini pers itu sendiri," kata Sasongko saat memberikan respon. 

Sementara itu, Sekretaris DPD PDIP Provinsi Jatim, Dra. Sri Untari Bisowarna M.AP dalam responnya menyampaikan, bahwa pers adalah pilar ke 4 demokrasi. 

"Dengan hadirnya pers, maka semua wacana yang berkembang akan mampu diterima oleh masyarakat luas," kata Untari dalam testimoni singkat yang ditulisnya. 

Menurut Untari, pada pemilu serentak tahun ini, posisi pers yang sangat strategis akan sangat menentukan nasib bangsa dan Negara. "Maka pers yang bebas terbatas dalam rangka NKRI sangat diharapkan," harap Untari. 

Sedangkan Ketua DPC Perindo Kota Malang, Laily Fitriyah Liza Min Nelly (Nelly) menyampaikan ucapan selamat hari pers nasional dan berharap agar independensi dan kebebasan pers semoga bisa terus terjaga dan terjamin.

"Karena sebagai pilar demokrasi, pers juga harus selalu bisa menjaga netralitas dan juga tajam dalam melakukan kontrol sosial," kata Nelly. 

Sejumlah respon, ucapan dan testimoni singkat yang disampaikan oleh sejumlah tokoh masyarakat Malang tersebut, kiranya menjadi renungan dalam meningkatkan kinerja jurnalistik insan pers dalam sebuah media dengan tetap mengacu pada KEJ (Kode Etik Jurnalistik).

Reporter : Galih
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya Yaya Sunarya: Jika Persiwa Tidak Datang Itu Urusan Mereka 
Berita Selanjutnya Diundang Bukber, Ratusan Janda Jompo dan Belasan Anak Yatim di Desa Sumber Wringin Terima Santunan

Komentar Anda