Portal Indonesia
Idul adha

LSM dan Warga Sorot Penjarahan Pasir Besi di Purworejo 

berita terkini
Lokasi penambangan pasir besi di Desa Jatimalang Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo
ramadhan

PURWOREJO, (portalindonesia.net) - Kekayaan alam berupa pasir besi di Desa Jatimalang Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sejak beberapa hari terakhir ini menjadi sorotan warga dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang ada di daerah tersebut. 

Sebab, lahan seluas kurang lebih 5 hektar dan mengandung pasir besi di desa tersebut dikeruk dengan menggunakan ekskafator (alat berat) dan dikirim ke luar daerah secara besar-besaran. 

Dan yang lebih memperihatinkan lagi, aktivitas yang diduga penambangan liar itu, lokasinya termasuk tepat berada di tempat pemakaman umum dimana di lokasi tersebut terdapat kuburan warga setempat. 

"Lokasi kuburan yang diduga dijadikan obyek penambangan liar itu, ukurannya panjangnya sekitar 200 - 300 meter dengan kedalaman sekitar 8 meter," ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (23/2/2019). 

Informasi dihimpun, setiap harinya atau dalam hitungan 24 jam, tidak kurang dari 50 truk tronton dengan kapasitas sekitar 36 - 40 kubik pasir besi dari Desa Jatimalang dikirim menuju Tuban.

"Diduga aktivitas penambangan pasir besi yang tidak memiliki ijin, dari pantauan kami sudah berjalan hampir 4 bulan" ungkap Bambang PR dari Lembaga Pengawasan Repuplik Indonesia (LPRI). 

Lebih jauh, Bambang mengungkapkan, ketika proses pengiriman material yang hendak dibawa ke luar daerah, ada bantahan kalau material yang dikirim itu bukan pasir besi, tapi tanah urug. 

"Penumpukan material di Nampurejo itu katanya bukan pasir besi, tapi tanah urug untuk memenuhi kebutuhan pembangunan bandara di Kulon Progo. Padahal menurut peraturan daerah (Perda) atau peraturan bupati (Perbup) di Kabupaten Purworejo, material itu tidak boleh dibawa keluar wilayah atau dijual belikan," katanya. 

Menurut Bambang, modus operandi untuk mengelabuhi pemeriksaan di jalan dari depo Nampurejo ke daerah Tuban menggunakan surat jalan dari Cilcap, proses pengiriman yang diduga hasil tambang liar dari Desa Jatimalang menuju Depo di Desa Nampurejo dengan menggunakan truk engkel ban dobel. 

"Biaya per ritnya  dari lokasi Jatimalang ke depo Nampurejo sebesar Rp 250 - 350 ribu dan sepengetahuan saya, bahan yang dibutuhkan untuk pembangunan landasan pacu bandara adalah batu atau pasir andesit yang mampu menyerap air secara cepat," ungkap Bambang lagi.

Kejanggalan ini, kata Bambang, menimbulkan praduga tak bersalah bagi sejumlah warga dan LSM, bahwa bahan material yang dikirim untuk pembangunan proyek itu akal akalan saja, dan diduga aktivitas penambangan di desa itu ilegal. 

"Berdasarkan hasil investigasi dan kajian di lokasi, ini jelas mengarah pada penambangan ilegal karena ada beberapa poin yang dinilai telah menyalahi aturan. Pertama, penggalian pasir besi dengan menggunakan alat berat harus di lakukan oleh PT yang sudah mengantongi ijin. Kedua, cara operasionalnya dilakukan melalui petak umpet, menunjukkan lemahnya pengawasan oleh pihak yang berwenang" tukasnya. 

Bambang menambahkan, padahal sudah cukup jelas, "alat yang digunakan baik di lokasi aktivitas nambang, yakni di Desa Jatimalang maupun di Desa Nampurejo sebagai Depo pasir besi, adalah ekskavator" imbuhnya. 

Lanjut Bambang, dari kejadian tersebut cukup mengherankan. "katanya aparat hukum tidak tau menau. Di sisi lain, sebanyak dua kali kunjungan pihak Satpol PP yang telah mengambil gambar ke sana ke mari, juga tidak bertindak untuk melakukan pemberhentian proyek gelap tersebut. Padahal Satpol PP adalah pengawal Perda dan Perbub di Kabupaten Purworejo" tandasnya. 

Hasil kajian selama ini, LPRI menilai hadirnya aktivitas penggalian pasir besi yang diduga penambangan ilegal itu telah merugikan negara. 

"Kesimpulan kami, ditaksir kerugian yang dialami Pemda Purworejo mencapai milyaran rupiah dari penggalian material di Desa Jatimalang yang di kirim ke luar daerah," kata Bambang. 

Data yang sudah dikantongi, sambung Bambang, material itu dikirim ke sebuah pabrik semen terkemuka. "Dan, sebagai penghimpun atau brokernya diketahui memiliki inisial bernama HM," pungkasnya.

Reporter : Fauzi
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya Dari Niat Tulus Bersedekah, Posko Logistik Syafa'at di Acara Munajat Akbar 212.
Berita Selanjutnya Jalan Sehat dan Bazar Warga Jl Greja Semarakkan HUT ke-74 RI di Kota Malang  

Komentar Anda