Portal Indonesia
Habibie

Songsong NYIA dan Romansa Kabupaten Purworejo 2020, Desa Jenar Kidul Punya Batik Tulis

berita terkini
Anggota Sanggar Batik Batik Asta Kinanti Desa Jenar Kidul Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo sedang membuat batik tulis.
ramadhan

PORTALINDONESIA.NET, PURWOREJO - Berdasarkan perkembangannya, industri batik di Indonesia terus berkembang pesat dan secara tidak langsung juga semakin memperkaya motif batik nusantara, termasuk batik tulis khas Desa Jenar Kidul Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. 

Ketua Sanggar Batik Asta Kinanti Desa Jenar Kidul, Kusla Arlinda (23), saat ditemui portalindonesia.net, di Balai Desa Jenar Kidul mengatakan, kalau motif batik tulis khas Desa Jenar Kidul ini, lebih menonjolkan pada motif dari hasil laut, seperti ikan, udang, kapal dan lain lain. 

"Batik bermotif hasil laut yang diproduksi Sanggar Batik Asta Kinanti ini, merupakan bagian dari identitas Desa Jenar Kidul dalam menyongsong Romansa Kabupaten Purworejo 2020 dan hadirnya Bandara Internasional di Kulon Progo Yogyakarta," ungkap Arlinda, Kamis (4/4/2019).

Menurutnya, jauh sebelum ditemukannya tehnologi batik cap, kegiatan membatik hanya dilakukan oleh perempuan. Kegiatan membatik itu dilakukan untuk mencari penghasilan tambahan, sambil berupaya untuk mempertahankan kebudayaan yang dianggap memiliki nilai adiluhung atau seni budaya yang bernilai dan wajib dipelihara. "Sejarah batik di pulau Jawa ini, saya ketahui setelah membaca sejumlah pengetahuan tentang Batik," jelas Arlinda.

Arlinda menambahkan, dari dulu hingga sekarang, cara membuat batik tradisional, yakni dengan menggunakan canting. "Atau dikenal dengan istilah batik tulis," imbuhnya. 

Lebih jauh, Arlinda menuturkan, tehnik batik tulis memiliki beberapa tahapan. Antara lain dalam tahapan membuat batik tulis dimulai dengan membuat pola di atas kain yang akan dibatik. Pola yang sudah terbentuk tersebut kemudian ditulis dengan menggunakan canting. Tahap ini disebut dengan klowongan. Setelah pola batik berubah menjadi klowongan, pola tersebut lalu diarsir. Tahap ini disebut dengan isen-isen. Setelahnya, diisi warna penuh, yang dinamakan tahap nembok. Kain yang sudah dibatik tersebut lalu direndam untuk memberi kesan warna sesuai yang diinginkan.

"Batik tulis dari desa ini menggunakan pewarna yang berkualitas untuk menjaga kualitas kain batik yang dihasilkan," katanya. 

Dalam perjalanannya, kata Arlinda, sanggar batik Asta Kinanti sempat vakum. "Sanggar batik Asta Kinanti ini mulai aktif lagi sejak tahun 2017 lalu, dan semoga akan terus berkembang maju," ungkapnya. 

Disebutkan, untuk harga batik tulis khas Jenar Kidul ini dibandrol mulai harga Rp 200 ribu per potong. "Tergantung motif dan jenis kain karena ini adalah batik tulis," ungkap Kusla Arlinda. 

Ditempat terpisah, Kepala Desa Jenar Kidul, Joko Kartono mengatakan, dalam rangka menyongsong adanya New Yogyakarta International Airport (NYIA) 2020 atau Bandara Baru Internasional di Kulon Progo, Yogyakarta dan Romansa Kabupaten Purworejo 2020 atau tahun kunjungan Purworejo di tahun 2020, Desa Jenar Kidul telah mempersiapkan produk unggulan sebagai identitas Desa Jenar Kidul. 

"Untuk menyongsong NYIA 2020 dan Romansa Kabupaten 2020 itu, kita angkat produk batik tulis sebagai identitas dan salah satu produk unggulan Desa Jenar Kidul," beber kades termuda se Kabupaten Purworejo itu. 

Selaku Kepala Desa Jenar Kidul, Joko mengaku, pihaknya sangat mendukung sanggar batik Asta Kinanti, karena selain dapat menciptakan kegiatan positif bagi ibu-ibu PKK dan para remaja, juga diharapkan dapat meningkat perekonomian masyarakat. Sehingga batik tulis ini kedepannya dapat menjadi icon Desa Jenar Kidul.

"Selaku pemerintah Desa, dukungan dari kami untuk mengembangkan batik khas Jenar Kidul, yaitu dengan memberikan anggaran setiap tahunnya. Sehingga diharapkan kedepan semakin maju semakin meningkat modalnya dan meluas pemasaran sehingga tidak hanya dapat meningkatkan pemasukan bagi desa saja, tapi perekonomian masyrakat desa sini juga semakin meningkat pula," tutur Kades Joko 

Kades yang enerjik ini menambahkan, untuk mengembangkan batik khas Jenar Kidul ini, pihaknya telah menganggarkan untuk tahun pertama yakni sejak menjabat sebagai kepala desa tahun 2018 sebesar Rp10 juta. 

"Di APBDes tahun 2019 ini, kita anggarkan lagi sebesar Rp 10 juta untuk penambahan modal yaitu untuk pembelian kain, malam atau lilin batik, waterglass, dan lainnya untuk meningkatkan model dan seni dari batik tulis khas Desa Jenar Kidul," ucapnya. 

Kades Joko berharap, sanggar batik Asta Kinanti semakin bisa lebih maju yang pemasarannya tidak hanya di Pasar Purworejo saja tapi pasar luar daerah, provinsi hingga ke manca negara. 

"Semoga saja dengan adanya NYIA di Kulon Progo, nantinya indentitas Kabupaten Purworejo sekaligus identitas Desa Jenar Kidul bisa Go Internasional," pungkasnya. 

Reporter : Fauzi
Editor : Abdul Hakim
ad
Berita Sebelumnya Mentan RI: Harga Gabah Tidak Boleh Dibawah Rp 4.070 Per Kilogram 
Berita Selanjutnya Hernia Tak Kunjung Sembuh, Warga Purbalingga Gorok Leher Sendiri

Komentar Anda