Portal Indonesia
Idul adha

Batik Dewa Purworejo Tembus Negara Luar 

berita terkini
Dyah Wayu Rystiana saat menunjukkan sejumlah karya batiknya.
ramadhan

PORTALINDONESIA.NET, PURWOREJO - Pengrajin sekaligus pemilik usaha batik di Kabupaten Purworejo terus bertambah dan produksi batik di Purworejo pun meningkat. Satu di antaranya adalah Dyah Wahyu Rystiani. 

Pengrajin batik yang juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 9 Purworejo dan berdomisili di Dusun Kesambi RT 1 RW 2 Desa/Kecamatan Loano itu, memiliki produksi batik dengan nama "Batik Dewa". 

"Nama batik dewa ini, diambil dari nama anak pertama kami," ungkap Dyah, saat ditemui portalindonesia.net, Jumat (16/6/2019). 

Wanita kelahiran Pecitran Desa Maron yang memulai usaha batiknya sejak tahun 2012 lalu itu, mampu menghasilkan sejumlah batik mulai dari teknik tulis klasik, cap, kombinasi, shibori, ecoprint warna alam dan sintesis dengan ciri motif Nusantara yang dipadukan dengan motif motif lokal Purworejo, seperti icon kuliner, yaitu kanting, geblek, clorot. 

Selain itu, juga ada motif budaya seperti ndolalak serta hasil alam seperti manggis, durian, atau bedhug Purworejo. 

Disinggung terkait ide awal ketertarikannya dalam usaha batik pada tahun 2012, Dyah mengaku termotivasi dengan nama batik geblek renteng dari Kulon Progo yang saat itu lebih dulu launching di pasaran. Kemudian muncul inisiatif membuat batik cap yang motifnya berupa makanan khas Purworejo, yakni Geblek. 

"Pertama kali membuat batik langsung diterima oleh masyarakat Purworejo, yaitu saat pameran Ekspo Purworejo tahun 2012," ungkapnya. 

Lantaran cukup besar tanggapan dari masyarakat dengan batik buatannya, kemudian Dyah mengembangkan usaha batiknya dengan motif-motif lain yang kental dengan Purworejo. 

Dyah juga mengaku pernah berprestasi dalam hal pembuatan batik. "Pernah juara 1 untuk produk ekonomi kreatif batik Purworejo tahun 2015," ungkapnya. 

Disamping memproduksi batik, ia juga menyediakan alat batik dan acap kali mengadakan pelatihan batik. 

Untuk produksi, Dyah mengatakan, dalam dua hari mampu membuat satu lembar batik tulis. Untuk batik cap, satu dari dua orang karyawannya mampu membuat sekitar 25 lembar batik cap per harinya. 

Jika pesanan melimpah, maka ia dibantu suami dan keluarga dengan mengajak atau melibatkan pembatik binaannya dari desa sekitar. 

Dalam hal pewarnaan, dirinya menggunakan dua macam warna, yaitu warna sintetis dengan warna yang cenderung cerah, dan warna alam yaitu dengan warna kayu secang, kulit manggis, daun manggis, dan lainya yang didapatkan dari alam. 

Warna alam itu sendiri justru yang paling disukai oleh konsumen kelas menengah keatas, utamanya bagi konsumen luar negeri. Kebetulan saat inacraft beberapa waktu lalu ada agen dari luar negeri yang meminta dirinya membuatkan contoh batik yang sederhana dengan motif warna alam untuk dikirim ke luar negeri. Jika contoh batik yang dibuatnya telah dikirim dan pihak dari luar itu cocok lalu sepakat, nantinya mereka akan memesan dalam jumlah yang banyak untuk dipasarkan di luar negeri, seperti di negara Belgia. 

Tak heran jika batik yang dibuatnya mampu bersaing dengan batik dari kota lain, seperti Pekalongan, Jogjakarta, dan Kota lainya. 

Batik hasil buatannya dijual dengan harga yang variatif mulai dari harga yang murah hingga mahal dengan dibandrol mulai Rp 75 ribu hingga Rp 3 juta per stelnya. Tapi produksi Batik Dewa miliknya, lebih mengutamakan permintaan konsumen. 

Selain dijual ke umum, ia juga membuat batik untuk kebutuhan siswa atau anak sekolah, dengan harga murah yaitu satu stel dengan harga 130 ribu dah jadi seragam batik lengkap dengan bawahanya. 

"Untuk pemasaran, kami dibantu oleh sejumlah UMKM, temen guru, serta marketing khusus dan marketing lepas yang dipasarkan secara online maupun konvensional. Alhamdulillah batik Dewa produksi kami banyak disukai baik di pasar konsumen lokal, nasional, maupun beberapa negara luar," bebernya. 

Menurut Dyah, saat ini batik di Purworejo mulai bangkit kembali, dan sedang booming batik dengan warna alam.

Ia berharap, batik yang dibuatnya bisa bersaing diluar Purworejo, disuka oleh orang Purworejo sendiri, dan bisa bersaing dengan kota kota perajin batik lain yang lebih dulu tenar seperti batik Pekalongan, Jogja, Solo, dan lain-lain. 

 

Reporter : Fauzi
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya Lampu Penerangan Pelabuhan Besuki Lama Padam, Dananya Kemana?
Berita Selanjutnya FoSSEI Dapat Penghargaan dari Menteri Bappenas Ri

Komentar Anda