Portal Indonesia
Habibie

Tak Mau Lagi Disebut 'Presiden BRK', Ini Harapan ASH Untuk Perkopian Bondowoso

berita terkini
Amin Said Husni (tengah) saat menghadiri Rembuk Kopi.
ad

PORTALINDONESIA.NET, BONDOWOSO - Kopi menjadi salah satu komoditas yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi andalan Bondowoso. Klaster ekonomi berbasis kopi serta branding Bondowoso Republik Kopi (BRK) dianggap berhasil dalam memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Salah satu yang dianggap berhasil mengangkat potensi kopi adalah Bupati Bondowoso ke-30 Amin Said Husni (ASH). Karena kontribusinya itu, masyarakat perkopian menabalkan ASH sebagai 'Presiden Republik Kopi'.

Kendati begitu, ada pernyataan mengejutkan yang dilontarkan ASH dalam Rembuk Kopi yang digelar di Cafe Expressi, Selasa (27/11) malam.

Ia meminta kepada semua pihak agar BRK tak sealu dilekatkan dengannya. Dengan seperti itu, Pemkab Bondowoso saat ini bisa berkreasi dengan BRK. Bahkan, Ia meminta agar penyematan Presiden BRK kepadanya tak lagi digaungkan, agar pemerintah tak risih dengan itu. 

“Kalau boleh saya mohon, tidak perlu lah saya disebut presiden. Agar pemerintah sekarang tidak risih dengan itu. Kopi itu bukan Amin, tapi kopi adalah petani. Kopi adalah masyarakat Bondowoso,” tegasnya. 

Namun demikian, dia berkomitmen akan terus bersama dan mengawal petani, dan pelaku kopi di Kabupaten Bondowoso. 

“BRK ini adalah kekayaan intelektual, yang sudah diakui oleh Kemenkumham, dituangkan dalam sebuah sertifikat. Sertifikatnya sudah saya serahkan ke Pak Bupati Salwa, ketika saya pamit pada 13 September 2018 lalu,” paparnya.

Sementara pengamat ekonomi, Dr. M. Fathorrazi, M.Si, yang hadir dalam kesempatan itu menyarankan agar BRK tetap digunakan oleh Pemkab, karena salah satu cara menjual produk itu adalah branding. 

“Kopi itu harus ada brandingnya, harus ada pekiknya, ‘BRK’. Jadi BRK itu adalah penyemangat atau pekiknya,” jelas pengelola Unej Kampus Bondowoso ini. 
Diakuinya, bahwa dirinya juga memberikan respon ketika branding BRK ini mulai berkurang, bahwa BRK jangan sampai dihilangkan. 

Sementara itu, Asisten 2 Pemkab Bondowoso, Agus Suardjito mengatakan, bahwa pengawalan untuk BRK pasti tetap ada. Terlebih lagi, Diakuinya, sebenarnya pengembangan Kopi di Kabupaten Bondowoso merupakan lompatan yang luar biasa. Terutama dalam rangka pengentasan kemiskinan. “Seperti yang dikatakan pak Fathorrazi, biar ada pekiknya. Biar ada yel-yelnya. Barangkali ditambah, ‘BRK Melesat,” ucap mantan direktur RSUD dr. Koesnadi ini.

Reporter : Eko Setia Budi
Editor : Abdul Hakim
ad
Berita Sebelumnya Pemkab Tak Anggarkan FKN, DPRD Bondowoso: Masih Diupayakan
Berita Selanjutnya Ibas Ingatkan Anak Muda Magetan Tidak Produksi Hoax

Komentar Anda